Postingan

00.00

Gambar
Cahaya biru dari layar laptop tua yang layarnya sudah mulai bergetar karena usia itu menjadi satu-satunya sumber kehidupan di sudut kamarku yang sempit. Jari-jemariku menari di atas keyboard yang beberapa tombolnya sudah copot, mengetikkan baris-baris kalimat yang terasa seperti sayatan belati. Aku Yogi, seorang mahasiswa dengan ransel penuh mimpi di pundakku, namun kini hanya terduduk lesu menulis catatan tentang bagaimana tahun 2025 telah melucuti segala yang kupunya. Sebagai anak lelaki satu-satunya yang diharapkan menjadi tiang penyangga keluarga, beban ini terasa kian mencekik. Aku mengetik dengan napas yang memburu, meratapi statusku yang kini hanya menjadi "mahasiswa akhir di suatu Universitas” “Semua orang di luar sana sedang sibuk menghitung mundur. Mereka punya rencana, punya pesta, dan punya harapan. Sedangkan aku? Aku hanya punya draf proposal tugas akhir yang berantakan, penuh dengan coretan revisi tinta merah  yang kini terasa tak lebih dari selembar kert...

Menggema dalam keheningan

Karya : Yulianus O. Tereng Atma bergetar ketika Mentari pagi menyelinap malu-malu di balik sebuah jendela kecil. Seulas cahaya menyentuh wajah-wajah mudah yang masih dikelilingi keraguan, seperti embun pagi yang menempel di dedaunan. Sebuah biara yang megah menjadi saksi kisah kami bermula. Di halaman biara tua yang sunyi, terdengar bisikan angin lembut yang menemani sekelompok remaja yang sedang berkumpul. Mereka datang dengan berbagai pertanyaan yang menggunung, mencari jati diri yang masih samar bagaikan pelangi yang datang hanya sekejap. Synergoi Paulus, kegiatan 21 hari yang menjanjikan perjalanan menemukan diri yang tak terlupakan segera dimulai. Gemercik suara burung dan megahnya gonggongan anjing menyambut kedatangan mereka dengan hebat. Hari-hari pertama dipenuhi dengan latihan kepemimpinan yang menguji nyali bagaikan baja yang coba dipotong oleh tangan kosong. Mereka dihadapkan pada tantangan untuk memimpin, mengambil keputusan,dan berkolaborasi dengan orang lain. Ada yang ga...

Peluk itu luka

Karya: Yulianus O. Tereng ꧁ Aku adalah sesosok kehidupan yang merindukan kebahagiaan akan datang padaku. Ketika berusia dua tahun, setangkai mawar yang istimewa itu gugur dan tak pernah tumbuh kembali. Luka menganga itu semakin terasa ketika tak ada orang yang membantuku untuk menumbuhkan kembali setangkai mawar yang patah itu. Di sekolah dasar, aku menjadi bulan-bulanan oleh temanku. Gugurnya setangkai mawar itu menjadi bahan ejekan mereka, duri-duri kecil terus menusuk luka batinku. Aku ibarat ikan yang terperangkap dalam jaring manusia. Tanpa banyak teman, aku hanya ditemani oleh bayang-bayang mawar yang layu itu. Setiap hari seperti berjalan di padang pasir yang tandus, haus akan kasih sayang dan penerimaan. Senyum terasa asing di bibirku, digantikan oleh ekspresi wajah yang datar dan hampa. Mama, dengan segala kesedihannya berusaha sekuat tenaga untuk membesarkanku. Namun, aku tahu! Kesedihannya sendiri menjadi penghalang baginya untuk mengisi kekosongan akibat mawar...

Rumah baru, tempat imajinasi bermula

Gambar
    Karya: Yulianus O. Tereng    Aku selalu merasa seperti sebuah pohon kering yang tumbuh sendirian di tengah hutan yang sangat lebat. Di tengah indahnya kehidupan, aku lebih senang menyendiri . Keramaian membuatku merasa tertekan, seperti seekor tikus yang masuk perangkap dan tidak tahu bagaimana ia harus keluar. Ketakutan untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan adalah tembok terbesar dalam hidupku. Aku merasa tidak pantas,apa yang aku lakukan rasanya tidak berpengaruh pada orang lain. Bagiku menulis, hanya menjadi hobi yang terpendam dan terkubur dalam sunyinya malam. Aku lebih suka mengahabiskan waktu dengan ponsel dan gitarku yang sudah menjadi teman setiaku. aku menulis, tapi itu tak ku perlihatkan kepada orang lain. Saat duduk di bangku sekolah, aku lebih suka duduk dibangku paling belakang yang letaknya tidak jauh dengan jendela dan gorden putih yang menghiasi bagiannya. Disana, aku mengamati alam dan gereja tua yang akan direnovasi...

Ilusi Bisu

Gambar
Ilusi menyelimuti Puan, Sembari menghela nafas, Sehelai kertas, menyimpan kisah bisu,   Terukir halusinasi.   Ia, pengagum dalam diam, Menyimpan rasa di balik senyum, Menatapmu dengan tatapan sayu, Yang tak pernah terucapkan.   Puan, "Mengapa ia tak pernah berkata?" Ia menghela nafas, "Kertas ini tak bernyawa, Hanya bisa menyimpan kata."   Puan, mengertilah, Pengagum dalam diam, Adalah jiwa yang terbungkus, Dalam ilusi, Yang tak pernah terungkap.

siapakah puan itu?

Gambar
Di kala malam yang sunyi, aku bertanya, Siapa gerangan puan itu? Di manakah dia berada?  Di bawah cahaya yang gemilang, Atma-nya bersinar terang.   Apa rahasia yang dia simpan, Di balik senyumnya yang manis? Siapa gerangan puan itu, Yang mempesona hati dan jiwa? Di manakah dia berada, Di antara derai bintang yang bersinar, Atma-nya mengalirkan keajaiban.   Bertaut kalbuku dengan kehadirannya yang fana, Mengenggam kalbu dan pikiran, Puan itu, misteri yang tak terpecahkan. Di manakah dia berada, Di antara derai keindahan yang mempesona, Atma-nya menggema keajaiban yang fana.

Bernostalgia Bersama Puan

Gambar
    Aku adalah seorang mahasiswa yang hidup di tengah hiruk-pikuk kesibukan KKN di sebuah desa. Kisahku bermula ketika tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang perempuan cantik Yang tenyata ia memiliki kesibukan yang tak jauh berbeda denganku. Dengan senyumannya yang manis dan kepribadian yang ramah Ia mampu menarik perhatianku sejak pandangan pertama. Aku ragu, namun atmaku yang kian dalam itu membuatku merasa bahagia. Aku takut untuk mengungkapkan perasaanku kepada Puan itu, khawatir akan merusak hubungan baik yang kami bangun selama KKN. Setiap kali berada di dekat Puan, detak jantungku berdegup kencang, dan kata-kata terasa tersangkut di tenggorokanku. Aku hanya bisa memendam perasaan itu dalam-dalam, sambil berharap bahwa suatu hari nanti, Puan juga merasakan hal yang sama. Saat program KKN berakhir, aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku kepada Puan Manis itu. Dengan hati yang berdebar, aku mengutarakan rasa ini. Namun jawaban dari puan tak kunjung dat...