00.00
Cahaya biru dari layar laptop tua yang layarnya sudah mulai bergetar karena usia itu menjadi satu-satunya sumber kehidupan di sudut kamarku yang sempit. Jari-jemariku menari di atas keyboard yang beberapa tombolnya sudah copot, mengetikkan baris-baris kalimat yang terasa seperti sayatan belati. Aku Yogi, seorang mahasiswa dengan ransel penuh mimpi di pundakku, namun kini hanya terduduk lesu menulis catatan tentang bagaimana tahun 2025 telah melucuti segala yang kupunya. Sebagai anak lelaki satu-satunya yang diharapkan menjadi tiang penyangga keluarga, beban ini terasa kian mencekik. Aku mengetik dengan napas yang memburu, meratapi statusku yang kini hanya menjadi "mahasiswa akhir di suatu Universitas” “Semua orang di luar sana sedang sibuk menghitung mundur. Mereka punya rencana, punya pesta, dan punya harapan. Sedangkan aku? Aku hanya punya draf proposal tugas akhir yang berantakan, penuh dengan coretan revisi tinta merah yang kini terasa tak lebih dari selembar kert...