Peluk itu luka
Karya: Yulianus O. Tereng
꧁
Aku adalah sesosok kehidupan yang merindukan kebahagiaan akan datang padaku. Ketika berusia dua tahun, setangkai mawar yang istimewa itu gugur dan tak pernah tumbuh kembali. Luka menganga itu semakin terasa ketika tak ada orang yang membantuku untuk menumbuhkan kembali setangkai mawar yang patah itu. Di sekolah dasar, aku menjadi bulan-bulanan oleh temanku. Gugurnya setangkai mawar itu menjadi bahan ejekan mereka, duri-duri kecil terus menusuk luka batinku. Aku ibarat ikan yang terperangkap dalam jaring manusia. Tanpa banyak teman, aku hanya ditemani oleh bayang-bayang mawar yang layu itu. Setiap hari seperti berjalan di padang pasir yang tandus, haus akan kasih sayang dan penerimaan. Senyum terasa asing di bibirku, digantikan oleh ekspresi wajah yang datar dan hampa.
Mama, dengan segala kesedihannya berusaha sekuat tenaga untuk membesarkanku. Namun, aku tahu! Kesedihannya sendiri menjadi penghalang baginya untuk mengisi kekosongan akibat mawar yang layu itu. Aku sering menghabiskan waktu sendirian di taman belakang rumah, menatap mawar layu itu, berharap keajaiban bisa terjadi, berharap mawar itu bisa hidup kembali, menjadi simbol harapan yang baru. Tetapi , keajaiban tak datang begitu saja. Aku harus menemukannya sendiri. Titik balik itu datang ketika aku menemukan sebuah buku tua di media sosial yang aku gunakan . Buku itu menceritakan kisah yang hampir sama dengan kisah yang sedang ku alami. Aku tak ingat judulnya apa, tapi isinya tentang pencarian jati diri dan kekuatan batin. Aku membaca buku itu berulang kali, setiap kata bagaikan irama lagu “sempurna” yang menenangkan jiwaku yang terluka. Buku itu membimbingku untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, mencari kekuatan dan penghiburan dalam doa dan meditasi. Aku mulai belajar tentang pengampunan, bukan hanya kepada teman-teman yang pernah mengejekku, tetapi juga kepada diriku sendiri. Aku menyadari bahwa ketiadaan Ayah bukanlah akhir dari segalanya.
Perlahan tapi pasti, aku mulai berubah. Luka batinku mulai mengering, digantikan dengan rasa damai dan penerimaan. Aku belajar untuk mencintai diriku sendiri dan untuk menghargai keberadaanku. Aku mulai membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan, dan menemukan kekuatan dalam iman. Doa menjadi teman setia dalam kesendirianku yang memberiku kekuatan dan harapan. Aku mulai menemukan arti tanya dalam hidupku. Aku belajar untuk bersyukur atas apa yang kumiliki, dan untuk menghargai setiap momen dalam hidupku.
Setangkai mawar baru mulai tumbuh di hatiku, lebih kuat dan lebih indah daripada sebelumnya. Mawar itu adalah simbol dari kebahagiaan yang kucari, kebahagiaan yang tumbuh dari dalam diriku sendiri. Aku masih merindukan setangkai mawar yang layu dulu, tetapi rasa rindu itu tak lagi menyakitkan. Ia berubah menjadi kenangan indah yang selalu kusimpan dalam hati. Aku telah belajar untuk hidup, untuk mencintai, dan untuk menemukan kebahagiaan dalam perjalanan hidupku sendiri. Peluk itu luka, tetapi aku telah belajar untuk memeluk diriku sendiri dan menemukan kedamaian di dalam pelukan Tuhan. Dan aku tahu, Ayah selalu ada di dekatku, dalam setiap langkah yang kulakukan.
#kisah nyata seorang puan muda
Komentar
Posting Komentar