Rumah baru, tempat imajinasi bermula

    Karya: Yulianus O. Tereng


   Aku selalu merasa seperti sebuah pohon kering yang tumbuh sendirian di tengah hutan yang sangat lebat. Di tengah indahnya kehidupan, aku lebih senang menyendiri . Keramaian membuatku merasa tertekan, seperti seekor tikus yang masuk perangkap dan tidak tahu bagaimana ia harus keluar. Ketakutan untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan adalah tembok terbesar dalam hidupku. Aku merasa tidak pantas,apa yang aku lakukan rasanya tidak berpengaruh pada orang lain. Bagiku menulis, hanya menjadi hobi yang terpendam dan terkubur dalam sunyinya malam. Aku lebih suka mengahabiskan waktu dengan ponsel dan gitarku yang sudah menjadi teman setiaku. aku menulis, tapi itu tak ku perlihatkan kepada orang lain. Saat duduk di bangku sekolah, aku lebih suka duduk dibangku paling belakang yang letaknya tidak jauh dengan jendela dan gorden putih yang menghiasi bagiannya. Disana, aku mengamati alam dan gereja tua yang akan direnovasi.Tanpa berinteraksi dengan siapapun. Aku lebih suka membaca buku daripada mendengarkan ajaran yang diberikan tenaga pendidik. Dunia halusinasiku lebih nyaman dari percintaan mereka dan bahkan jauh lebih nyaman jika tidak berinteraksi dengan siapapun. 

  Suatu hari seseorang mengajakku untuk menjelajahi dunia baru yang belum pernah terbayangkan. UKM litera, dunia imajinasi baru terukir. Awalnya aku menolak, aku takut berinteraksi dan membangun komunikasi dengan dunia baru. Aku takut terjebak dalam percakapan yang canggung, dihujati pertanyaan yang mungkin tak akan bisa ku jawab. Mungkin, aku hanya bisa menundukan kepalaku sembari menghadapi pertanyaan yang terus ku dengar, yang pada akhirnya aku kembali ke dunia dimana aku menjadi seorang yang tak akan nada gunanya. ‘’kamu punya bakat, tulisanmu sudah ku baca dan itu sangat bagus’’ suara itu, terdengar sangat merdu dari bibirnya. Ia mengujiku, sembari memegang pundaku. Rasa penasaran dan sedikit dorongan darinya, membuatku ingin mencoba, dan akupun luluh. Kulangkahkan kakiku disebuah ruangan berlantai empat dengan degup jantung berdebar kencang. Aku melangkah masuk ke ruangan itu. Di sana, ku melihat orang-orang yang tak ku kenal menyapaku dengan lembut. Suasana di ruangan berlantai empat itu membuatku mulai bertanya, inikah rumah baru tempat imajinasiku akan dimulai?. Mereka kelihatannya lebih bersemangat. Mereka saling berdiskusi, bahkan bercanda dengan senyuman hangat dari bibir mereka. Aku duduk di sudut ruangan bersama ponsel dan gitar, penghibur halusinasiku. Mereka tampak begitu akrab,tapi sayangnya aku hanyalah pengamat dari percakapan mereka. Aku seperti seorang tokoh yang tidak memiliki peran dalam sebuah drama. Namun, perlahan-lahan rasa gugupku mulai meredah. Seorang mahasiswa tingkat bawah mulai memegang pundakku, pelan-pelan, ia mulai mengajakku berkenalan. Aku merasa seperti menemukan tempat yang cocok untukku berteduh.  
    
    Rumah UKM litera, tempat dimana aku memulai mengembangkan potensi yang tak pernah kusadari sebelumnya. Aku mulai berani untuk mnunjukan diriku. Dimulai dari ‘’hallo,nama saya Yogi’’, kini aku mulai berbagi cerita dan bertukar ide. Aku ingin belajar dari anggota lainnya. Hari itu aku menyadari bahwa setiap pertemuan UKM Litera adalah momen terindah tempat imajinasiku berkembang. Rumah UKM menjadi tempat bagaimana aku bisa merangkai kata-kata dengan istimewa. Perlahan tapi pasti, aku mulai bangkit dari rasa takut dan keraguan. Aku masih ingat, saat pertama kali aku membuat sebuah puisi, dan membuatnya menjadi sebuah lagu, hingga mementaskannya didepan umum. Suara jantungku berdebar kencang, telapak tanganku berkeringat, dan mataku berkaca-kaca. Namun, saat aku melihat sorot mata teman-temanku, aku merasa sedang berada dalam dunia imajinasiku yang paling indah. Kini, UKM Litera telah membuka pintu baru dalam hidupku. Di sini, aku menemukan sebuah rumah, sebuah tempat dimana aku bisa berkembang dan menjadi diriku sendiri. Di sini, aku mengerti. Menyerah sebelum bertanding adalah hal yang salah. Di sini aku menemukan sebuah arti komunitas, sebuah tempat dimana aku tumbuh bersama orang-orang yang memiliki mimpi yang sama. Halusinasiku yang tak kunjung datang, kini terbayar dengan imajinasi yang tak akan menjadi halusinasi lagi.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

00.00

Menggema dalam keheningan

Peluk itu luka