Menggema dalam keheningan
Karya : Yulianus O. Tereng
Atma bergetar ketika Mentari pagi menyelinap malu-malu di balik sebuah jendela kecil. Seulas cahaya menyentuh wajah-wajah mudah yang masih dikelilingi keraguan, seperti embun pagi yang menempel di dedaunan. Sebuah biara yang megah menjadi saksi kisah kami bermula. Di halaman biara tua yang sunyi, terdengar bisikan angin lembut yang menemani sekelompok remaja yang sedang berkumpul. Mereka datang dengan berbagai pertanyaan yang menggunung, mencari jati diri yang masih samar bagaikan pelangi yang datang hanya sekejap. Synergoi Paulus, kegiatan 21 hari yang menjanjikan perjalanan menemukan diri yang tak terlupakan segera dimulai. Gemercik suara burung dan megahnya gonggongan anjing menyambut kedatangan mereka dengan hebat. Hari-hari pertama dipenuhi dengan latihan kepemimpinan yang menguji nyali bagaikan baja yang coba dipotong oleh tangan kosong. Mereka dihadapkan pada tantangan untuk memimpin, mengambil keputusan,dan berkolaborasi dengan orang lain. Ada yang gagap, langkahnya seperti bayi yang baru belajar jalan, ada yang lantang, suaranya bak lonceng yang dibunyikan setiap pagi oleh pak ketua, hehehe. Namun, di setiap kegagalan dan keberhasilan, tersimpan Mutiara hikmah yang berharga, seperti kerikil-kerikil kecil yang berkilauan di tepi pantai. Mereka belajar menjadi rekan kerja Paulus, belajar arti kerja sama yang sesungguhnya, saling melengkapi, dan saling menguatkan, seperti untaian mutiara yang membentuk kalung indah yang berharga.
Setiap pagi pukul 06.30, doa bersama menggema di kapel, suara-suara mereka membaur dalam lantunan pujian, menciptakan harmoni yang menenangkan jiwa dan raga. “Datanglah oh Tuhan" sebuah lagu yang penuh makna akan pujian kepada Tuhan menjadi penyatu atma yang meredup. Cahaya lilin yang lembut menerangi wajah-wajah mereka. Lexio davina, sebuah praktik yang menuntun mereka pada kedalaman jiwa, membuka jendela baru menuju pemahaman diri yang lebih utuh. Di tengah sunyinya sebuah biara, mereka menemukan kedamaian yang hakiki, merenungkan makna hidup, dan menemukan kekuatan yang terpendam dalam diri, seperti bunga teratai yang mekar di tengah lumpur. Ada kalanya air mata haru menetes, mencurahkan beban yang selama ini terpendam. "Goyang di Hati Ini Ada Cinta," lagu sederhana yang dinyanyikan bersama, menyatukan hati mereka, menjalin ikatan persaudaraan yang semakin erat, seperti benang emas yang menyatukan kain tenun. Lagu ini menjadi pengikat batin mereka. Malam rekreasi, diselingi tawa canda, mengingatkan mereka bahwa perjalanan mencari jati diri tak selalu dipenuhi keseriusan. Momen-momen penuh kegembiraan menyempurnakan hari-hari yang penuh tantangan. Mereka juga bertemu dengan para novis, berbagi cerita dan pengalaman hidup, menjalin persaudaraan yang hangat. Para novis, dengan pengalaman spiritualitas mereka yang berharga, memberikan bimbingan dan dukungan kepada para remaja. Makan siang bersama menjadi momen berharga, dimana mereka berbagi cerita dan canda tawa bahkan menjalin ikatan yang lebih kuat. Selain itu, meditasi dan olahraga bersama menjadi bagian dari keseharian mereka, membentuk tubuh dan pikiran yang sehat dan kuat. Olahraga bersama, seperti bermain voli,badminton, dan bahkan ada yang bermain gitar,membantu mereka untuk melepas penat dan meningkatkan kesehatan fisik. Mereka juga mengikuti misa bersama para novis, mendalami makna iman dan kebersamaan. Ada yang menangis terharu, ada yang tertawa lepas, menunjukkan keragaman emosi yang mereka alami selama program ini.
Suatu malam setelah kegiatan lexio davina, seorang peserta menceritakan pengalamannya sembari menangis. Teman-temannya menghiburnya dengan pelukan hangat dan kota-kota yang menghibur. Momen ini memberi arti persaudaraan yang telah terjalin antara mereka. Di lain waktu, seorang peserta lainnya berbagi kisah keberhasilannya mengatasi keraguan dan ketidakpercayaan akan Tuhan yang dialaminya . Kisah ini menjadi inspirasi bagi peserta lainnya untuk terus berjuang mengatasi kelemahan diri.
Dua puluh hari berlalu dengan cepat. Mentari kembali menyambut mereka dengan sinar yang lebih terang, seperti berkat yang tak berkesudahan. Wajah-wajah yang pernah diliputi keraguan, kini bersinar dengan kepastian dan keyakinan. Synergoi Paulus telah merubah mereka membentuk pribadi yang lebih utuh, lebih tangguh, dan lebih siap untuk menghadapi tantangan. Mereka meninggalkan biara bukan hanya dengan jati diri yang ditemukan, tetapi juga dengan persaudaraan yang akan selalu mereka kenang, seperti gemintang yang selalu bersinar di malam kelam. Mereka berjanji untuk tetap terhubung dan saling mendukung, meski perjalanan Synergoi Paulus telah berakhir. Suasana perpisahan dipenuhi dengan air mata haru dan pelukan hangat.
Komentar
Posting Komentar