00.00


Cahaya biru dari layar laptop tua yang layarnya sudah mulai bergetar karena usia itu menjadi satu-satunya sumber kehidupan di sudut kamarku yang sempit. Jari-jemariku menari di atas keyboard yang beberapa tombolnya sudah copot, mengetikkan baris-baris kalimat yang terasa seperti sayatan belati. Aku Yogi, seorang mahasiswa dengan ransel penuh mimpi di pundakku, namun kini hanya terduduk lesu menulis catatan tentang bagaimana tahun 2025 telah melucuti segala yang kupunya. Sebagai anak lelaki satu-satunya yang diharapkan menjadi tiang penyangga keluarga, beban ini terasa kian mencekik. Aku mengetik dengan napas yang memburu, meratapi statusku yang kini hanya menjadi "mahasiswa akhir di suatu Universitas”

“Semua orang di luar sana sedang sibuk menghitung mundur. Mereka punya rencana, punya pesta, dan punya harapan. Sedangkan aku? Aku hanya punya draf proposal tugas akhir yang berantakan, penuh dengan coretan revisi tinta merah  yang kini terasa tak lebih dari selembar kertas sampah di atas meja yang berdebu. Aku ingin sekali saja, satu malam saja, merasa bahagia. Aku ingin tertawa di bawah cahaya kembang api tanpa harus memikirkan pengumpulan data atau teori yang buntu.”

Aku berhenti sejenak, menatap kursor yang berkedip malas di layar yang mulai memudar warnanya. Laptop ini, sama sepertiku, sudah mencapai batas maksimalnya. Aku teringat bagaimana awal tahun 2025 aku memulainya dengan binar mata seorang pemimpi, namun bulan demi bulan, ambisi itu mulai pudar. Pertama kali aku melihat kalender yang kian menipis, aku merasa seperti narapidana yang menunggu eksekusi mati. Aku telah mengasingkan diri dari pertemanan, melewatkan setiap undangan nongkrong, dan mengunci diri dalam gua sempit ini hanya untuk berakhir dengan tumpukan dokumen digital yang dicap "tidak layak". Pikiranku mulai mengembara pada biaya kuliah yang dibayar dengan keringat dan air mata orang tuaku, yang kini terasa menguap sia-sia karena aku masih saja tertahan di gerbang yang sama.

“Tapi bagaimana bisa aku bersukacita? Bagaimana aku bisa tertawa sementara di layar ini, ratusan halaman proposal ini seolah menertawakan kegagalanku untuk lulus tepat waktu? Sudah sebulan aku terjebak dalam bab yang sama, berputar-putar dalam ketidakpastian. Aku merasa seperti pembunuh yang menghisap harapan orang-orang yang kucintai, mencuri sisa-sisa tabungan masa tua demi biaya semester yang terbuang sia-sia untuk revisi yang tak pernah selesai.”

Suara deru knalpot di jalanan mulai memekakkan telinga. Pesta sudah dimulai bagi mereka yang menang, namun bagiku, malam ini hanyalah perpanjangan waktu dari penderitaan yang panjang. Aku meletakkan kepalaku di atas meja kayu bertaplak hitam yang mulai berjamur. Dinginnya meja itu seolah merambat ke seluruh tubuh. Di bawah sinar lampu 5 watt yang berkedip-kedip, kamarku tampak seperti penjara bawah tanah. Aku merasa sangat kesepian, sebuah jenis kesepian yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan keramaian di luar sana. Tanpa sadar, aku menarik kedua lututku ke dada, melingkarkan lengan dengan sangat kuat. Aku memeluk diriku sendiri di atas kasur lantai yang sudah tipis. Di detik itu, waktu seolah membeku. Peluk itu luka. Saat lenganku sendiri melingkar di leher dan pundak, aku justru merasakan perih yang luar biasa di ulu hati. Pelukan mandiri ini bukan lagi bentuk  yang sering dibicarakan orang-orang di media sosial, pelukan ini sekarang terasa seperti beban yang menghimpit jantung. Aku bisa merasakan setiap detak jantungku yang lelah dan tidak beraturan. Aku bisa mencium aroma obat nyamuk, arom apek dari kamarku yang sudah lama tidak dibersihkan karena waktuku habis untuk menatap layar laptop tua berwarna hijau, sebuah aroma yang mengingatkanku bahwa aku telah menelantarkan hidupku sendiri demi sebuah gelar sarjana yang tak kunjung datang. Semakin erat aku memeluk diriku, semakin aku ingin berteriak. Pelukan itu menyakitkan karena ia adalah satu-satunya pelukan yang tersedia bagiku saat ini. Aku memeluk diriku seolah aku adalah satu-satunya harapanku sendiri, padahal di dalam hati, aku merasa seperti puing-puing bangunan yang hampir rata dengan tanah dan pasir karena tekanan  yang kejam dan membosankan. Aku terjebak dalam pusaran rasa bersalah pada keluarga yang sudah banyak berkorban, sementara aku masih bergelut dengan kata-kata yang tak kunjung menjadi nyata.


Aku berbisik pada kesunyian, suaraku menggema di dalam kamar yang berantakan."Maafkan aku... maafkan aku." Air mataku jatuh tanpa suara, membasahi baju biru yang kusam. Aku membalas pelukan pada tubuhku sendiri dengan kekuatan yang tersisa, seolah-olah dengan memeluk lebih erat, aku bisa menyatukan kembali kepingan hidupku yang hancur sepanjang tahun 2025. 


Tepat pukul 00.00 WIB, Suara kembang api di pusat kecamatan meledak dengan dahsyat, cahayanya yang berwarna-warni menyelinap masuk melalui celah-celah jendela yang belum tertutup dengan baik dan di celah genteng yang bocor, menari-nari di atas layar laptopku yang masih menampilkan kursor berkedip di ujung draft proposal itu. Dunia di luar sana sedang merayakan keberhasilan mereka bertahan, sementara di dalam kamar ini, aku merayakan kemampuanku untuk tidak menyerah meski sudah babak belur. Aku melepaskan pelukan pada diriku, menyeka air mata dengan jempol yang gemetar, lalu menutup laptopku perlahan. Cahaya biru itu padam. Kegelapan total menyelimuti kamarku, namun anehnya, dalam gelap itu aku merasa sedikit lebih kuat. Aku menyadari bahwa meski draft itu penuh coretan merah, aku masih di sini, masih bernafas, dan masih punya satu kesempatan lagi besok pagi.

"Tidak apa-apa, Yogi. Besok kita mulai lagi," bisikku di dalam kamar yang sangat gelap. 2025 berakhir bukan dengan pesta kemeriahan, tapi dengan sebuah dekapan paling perih yang pernah kurasakan dari diriku sendiri. Luka itu masih ada, sangat nyata dan berdenyut, tapi malam ini aku belajar bahwa meski aku sering memeluk itu luka, ia adalah bukti bahwa aku masih memiliki keberanian untuk tetap bertahan hidup di tengah dunia yang semakin dingin ini. Rasa perih ini adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai, dan selama aku masih bisa merasakan sakit, artinya aku masih hidup dan masih bisa melawan. Aku tidak akan membiarkan tahun 2026 menjadi salinan kegagalan dari tahun sebelumnya, ini adalah titik balik, sebuah janji sunyi yang kuucapkan pada diriku sendiri di bawah sisa-sisa cahaya kembang api yang mulai memudar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggema dalam keheningan

Peluk itu luka