Moke, Mabuk, Persaudaraan

Karya: Yulianus O. Tereng

Moke, mabuk, persaudaraan. 

  Alfa dan Ken adalah dua saudara yang hidup di sebuah desa kecil. Mereka tumbuh bersama, bermain bersama, suka duka mereka rasakan bersama. Desa tersebut terkenal dengan keindahan alam dan kearifan lokal yang Masih kental. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dengan memanfaatkan hasil bumi yang berlimpah. Salah satu tradisi yang masih dijaga erat adalah pembuatan moke atau minuman keras yang dihasilkan dari pohon lontar . Alfa dan Ken adalah saudara kandung yang yang mempunyai karakter yang sangat berbeda. Alfa adalah pribadi yang rajin dan bertanggung jawab Ia membantu orang tua mereka mengelola ladang dan selalu bersikap sopan terhadap sesama. Sedangkan Ken adalah pribadi yang lebih suka bersantai dan berkumpul bersama teman-temannya, menikmati waktu tanpa memikirkan masa depan. Suatu hari, Alfa dan Ken memutuskan untuk membuat moke mereka sendiri. Mereka ingin menciptakan moke terbaik yang pernah ada di desa mereka. Bersama-sama, mereka memanjat pohon lontar, mengumpulkan nira, dan mulai menyuling moke di kebun belakang rumah mereka. Prosesnya panjang dan melelahkan, tetapi mereka melakukannya dengan penuh semangat dan kegembiraan. Moke yang mereka hasilkan pun terkenal sebagai minuman terbaik di desa itu, membuat mereka bangga. 

    Tahun berlalu, kehidupan pun mulai berubah. Ken semakin sering minum moke dan mulai mengabaikan tanggung jawabnya. Ia sering terlihat mabuk di siang hari, membuat orang tuanya cemas dan membuat kakaknya yaitu Alfa marah. Moke yang dulu menjadi simbol persaudaraan, kini menjadi sumber masalah. “Ken, kamu harus berhenti minum sebanyak itu," tegur Alfa suatu sore. "Kita punya ladang yang harus diurus dan orang tua yang perlu perhatian kita.""Apa pedulimu?" jawab Ken dengan nada kasar. "Aku hanya ingin menikmati hidup. Kamu terlalu serius, Alfa." Pertengkaran demi pertengkaran mulai terjadi di antara mereka. Ken yang dulu ceria dan penuh tawa kini berubah menjadi seseorang yang keras kepala dan suka marah. Alfa merasa kehilangan saudara yang sangat ia sayangi. Kebiasaan minum moke Ken semakin tak terkendali. Ia sering tidak pulang ke rumah, malah menghabiskan malam di rumah teman-temannya. Orang tua mereka semakin khawatir, sementara Alfa mencoba menjaga ladang dan keluarganya tetap berjalan seperti biasa.

     Suatu malam, setelah pesta moke di rumah temannya, Ken pulang dalam keadaan mabuk berat. Ia mengamuk, memecahkan barang-barang, dan berbicara kasar kepada orang tuanya. Alfa yang tidak tahan melihat keluarganya menderita, akhirnya memutuskan untuk bertindak tegas. “Ken, kalau kamu tidak berhenti minum, kamu harus pergi dari rumah ini," ujar Alfa dengan suara gemetar, mencoba menahan emosinya.”baik, aku akan pergi! Aku tidak butuh kalian! “teriak Ken sebelum pergi meninggalkan rumah dengan langkah terhuyung. Ken akhirnya pergi meninggalkan rumah dan ia tinggal di rumah temannya yang juga pecandu Moke. Kehidupannya semakin berantakan. Ia tidak lagi bekerja dan hanya mengandalkan belas kasihan dari orang. Kabar tentang Ken yang hidup dalam kemiskinan dan kehancuran menyebar di desa. Alfa merasa bersalah, tetapi ia tahu bahwa keputusan itu harus diambil demi kebaikan keluarga mereka. Sementara itu, orang tua mereka semakin sakit karena memikirkan anaknya yaitu Ken. Alfa berusaha sekuat tenaga untuk merawat mereka dan menjaga ladang, tetapi beban itu terlalu berat untuk ditanggungnya sendiri. Suatu hari, saat Alfa mendengar kabar bahwa Ken sakit parah, ia segera mencarinya, berharap bisa membawa saudaranya pulang. Ketika ia menemukan Ken, hatinya sangat hancur melihat kondisi saudaranya yang kurus kering dan lemah. “Ken, ayo pulang. Aku akan merawatmu," kata Alfa dengan air mata berlinang. "Terlambat saudaraku, Aku sudah membuat terlalu banyak kesalahan," jawab Ken dengan suara pelan. Akhirnya Alfa membawa Ken pulang dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Namun, kondisi Ken tidak membaik. Beberapa minggu kemudian, Ken menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan luka mendalam di hati Alfa dan orang tuanya.

   Kehilangan Ken adalah pukulan paling berat bagi keluarga itu. Alfa merasa hampa, tetapi ia bertekad untuk melanjutkan hidup dan menjaga warisan keluarga mereka. Ia berhenti memproduksi moke dan berfokus pada pertanian serta kesejahteraan keluarganya. Ia berjanji untuk menjaga desa dan keluarganya dengan penuh kasih sayang, sebagai bentuk penebusan atas kesalahan yang pernah terjadi.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

00.00

Menggema dalam keheningan

Peluk itu luka