Puan manis berpayung hitam





  Ruteng, kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Rintik hujan mengguyur kota dengan irama yang menenangkan, membuat sore itu terasa sejuk dan hening. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil memegang payung hitamnya yang masih terlipat. Seorang perempuan muda itu baru saja pulang dari tempat kerjanya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa dengan payung yang sama-sama terlipat berdiri di sampingnya. Pria itu bernama Yulianus. Seorang mahasiswa tampan dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan reda. 

 Waktu berlalu dengan cepat, keduanya semakin terpesona satu sama lain. Mereka menemukan banyak kesamaan dan ketertarikan di antara mereka. Perbincangan yang hangat dan mendalam seakan melupakan hujan yang turun dengan derasnya. Namun, saat mereka akan mengungkapkan perasaan yang mendalam, hujan pun semakin deras. Dalam sekejap, hujan deras membasahi mereka berdua dan menghalangi pandangan mereka. “Sepertinya kita harus menunggu lebih lama lagi,” Kata Yulianus sambil tertawa kecil, mencoba membuat suasana tetap ceria meskipun hujan semakin deras. Perempuan muda itu mengangguk sambil tersenyum. “Aku berharap bisa segera pulang, tetapi tampaknya alam punya rencana tersendiri, ia menitipkan hujan untuk menghalangi perjalanan pulangku. “ Mereka pun terus berbincang, menertawakan hal-hal kecil dan membagikan mimpi serta harapan. Namun, waktu terus berjalan dan hujan pun mulai mereda. Tetes-tetes terakhir hujan masih terdengar lembut di atap halte, menciptakan simfoni penutup yang indah untuk pertemuan mereka. Perempuan muda itu melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku harus pergi sekarang, keluargaku pasti sudah khawatir." Yulianus mengangguk, wajahnya terlihat sedikit sedih namun tetap tersenyum. "Tentu, aku mengerti. Semoga kita bisa bertemu lagi." Perempuan muda itu tersenyum lembut dan membuka payungnya. "Terima kasih untuk perbincangan yang menyenangkan, Yulianus. Aku harap kita bisa bertemu lagi di lain waktu." Yulianus memandangi perempuan muda itu berjalan menjauh, meninggalkan halte dengan langkah ringan. Hatinya terasa hangat meski pertemuan mereka begitu singkat. Ia berharap, di lain kesempatan, mereka bisa bertemu lagi dan melanjutkan kisah yang tertunda.




.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

00.00

Menggema dalam keheningan

Peluk itu luka